Rabu, 07 April 2010

Profil Kabupaten Lebak


Kabupaten Lebak beribukota di Rangkasbitung, secara geografis terletak antara 105o25 -106o30 BT dan antara 6o18 - 7o00 LS. Berbatasan dengan Kabupaten Serang disebelah utara, berbatasan dengan Samudera Indonesia disebelah selatan, berbatasan dengan Kabupaten Pandeglang disebelah barat, berbatasan dengan Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi disebelah timur. 

Luas wilayah Kabupaten Lebak 304.472 Ha.Secara administratif, Kabupaten ini terbagi menjadi dua puluh delapan Kecamatan dan 315 Desa dan lima Kelurahan. 

Kabupaten Lebak dikenal dengan suku badui dengan segala kekhasan dan keunikan hidupnya di peedalam sebelah selatan Banten. Lebak kaya akan sumber alam. Potensi higrologis di Lebak cukup menjanjikan. Daerah ini memiliki cukup banyak jumlah mata air yang mengalir sepanjang tahun dengan debit air yang lumayan besar. 

Beberapa sungai yang jadi andalan seperti sungai Ciujung, Ciberang, Cilaki. Kekayaan alam ini bisa mendukung kebutuhan irigasi pertanian dan air bersih bagi perkotaan. Di sektor pertambangan Lebak memiliki tambang emas yang produktif ini terletak di Desa Cikotok Kecamatan Bayan. 

Pengembangan pariwisata terutama dipesisir Samudera Hindia. Sepanjang Malingping sampai Bayah sejauh 40 Km memiliki pemandangan pantai berkarang yang mempesona. Daya pikat alamnya yang eksotis bisa menarik wisatawan, yang sudah tentunya menjadi pemasukan kas daerah. Pantai Badegur dengan hamparan pasir yang luas dan Pantai Karang Taraje bisa menjadi obyek wisata yang potensial.


Sumber Data: 
Banten Dalam Angka 2008
(01-10-2007)
PBS Provinsi Banten
Jl. Penancangan No.4 Serang 42124
Telp (0254) 202315
Fax (0254) 202315



Sumber :

http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=3602

20 Ribu Hektare Hutan di Lebak Kritis

Sedikitnya 20 ribu hektare hutan di Kabupaten Lebak, Banten, teridentifikasi lahan kritis sehingga perlu dilakukan gerakan rehabilitasi penghijauan untuk melestarikan hutan dan alam. 

Kepala Bidang Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan KabupatenLebak, Asep Mauladi, Selasa (5/5) mengatakan pihaknya saat ini berencana akan melakukan program penghijauan pada lahan kritis melalui program gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GNRHL). Program penghijauan tersebut sudah dilaksanakan sejak tahun 2003-2008 hingga sasaran mencapai 13.000 hektare. 

Pihaknya menargetkan setiap tahun lahan kritis di Kabupaten Lebak menurun sehingga perlu adanya program rehabilitasi penghijauan. Saat ini, lahan kritis yang masih luas tahun ini juga mendapat alokasi dana penghijauan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Bahkan, dukungan pemerintah pusat yang melaksanakan melalui program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) sudah menurunkan jumlah lahan kritis. 

Sepanjang tahun 2003 lalu, kata dia, lahan kritis di Kabupaten Lebak tercatat sebanyak 35 ribu hektare. Pada 2009 ini sudah menurun hingga mencapai 20 ribu hektare. "Dari 2003 sampai saat ini jumlah pohon yang ditanam di lahan kritis sebanyak tiga juta batang pohon," katanya. 

Ia menyebutkan, jenis bibit pohon yang ditanam di lahan gundul itu antara lain tanaman pulai, mahoni, jati, bambu, trembesi, sukun, albasia dan hortikultura. "Dengan adanya gerakan penanaman ini, sejumlah lahan gundul dan lahan kritis bisa ditanggulangi secara bertahap," ujarnya. 

Menurut dia, sejak GNRHL dilaksanakan hingga saat ini bencana alam seperti longsor dan banjir di Kabupaten Lebak relatif kecil. Program ini tentu sangat efektif untuk menanggulangi pelestarian hutan dan lahan "Saya berharap program penghijauan ini semakin gencar untuk melestarikan hutan dan alam," katanya. (Ant/OL-06) 

Sumber:
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/05/05/73239/123/101/20-Hektare-Hutan-di-Lebak-Kritis
5 Mei 2009

Baduy



Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayahKabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LU dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20°C.

Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Asal-usul

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran(sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Baduy sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-oraang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitann=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.

Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, danIslam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apapun", atau perubahan sesedikit mungkin:

Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.

Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambuyang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).

Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

 

Kelompok-kelompok dalam masyarakat Kanekes

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik). Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Kelompok masyarakat panampingadalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Apabila Baduy Dalam dan Baduy Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Baduy Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

Pemerintahan

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "puun". Struktur pemerintahan secara adat Kanekes adalah sebagaimana tertera pada Gambar 1.

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "puun" yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Berkas:Struktur_pemerintahan_baduy.gif

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung (Makmur, 2001).

Mata pencaharian

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Interaksi dengan masyarakat luar

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba keKesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

 

Sumber :

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Orang_Kanekes&oldid=2375056 



Sumber Gambar:

http://disbudpar.files.wordpress.com/2009/03/seba-baduy-041.jpg
http://praduwiratna.files.wordpress.com/2008/08/baduy.jpg

Kabupaten Lebak

MENYEBUT nama Lebak, yang pertama terlintas di pikiran adalah Suku  Badui dengan segala kekhasan dan keunikan kehidupannya di pedalaman  sebelah selatan Banten. Kesederhanaan menjadi ciri kehidupan di  perkampungan suku itu. 
    
Masyarakat Badui, baik Badui Dalam maupun Badui Luar, terpusat di Desa  Kanekes yang terletak di Pegunungan Kendeng berada pada ketinggian 775 meter di atas permukaan laut. Desa Kanekes sendiri masuk dalam wilayah Kabupaten Lebak bagian Selatan. Desa ini termasuk salah satu dari 190  desa-sekitar 60 persen dari 295 desa di Kabupaten Lebak yang pernah  menerima Inpres Desa Tertinggal (IDT). 
    
Banyaknya desa yang masih menerima IDT di kabupaten seluas 2.859,96  kilometer persegi ini mengindikasikan Kabupaten Lebak sebagai   kabupaten miskin. Belum lagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten  Lebak tahun 1998/1999 cuma Rp 4,31 milyar. Bandingkan dengan  penerimaan APBD 1998/1999 yang sebesar Rp 56,39 milyar. Tingkat ketergantungan Lebak kepada pusat mencapai 81 persen. Angka itu  menjadikan Lebak termasuk kabupaten miskin di Banten, bahkan di Jawa Barat. 
    
Kemiskinan telah lama membelit Lebak. Gambaran itu pernah diuraikan  dalam buku Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker (Multatuli) yang pernah menjadi Asisten Residen Lebak (1856-1857). Buku tersebut  menceritakan penderitaan dan kesengsaraan rakyat Lebak akibat penindasan kaum feodal dan kolonial. Dari gambaran itu tercermin, betapa kemelaratan telah lama membelenggu masyarakat Lebak. Namun,  bukan berarti Lebak yang terdiri atas 19 kecamatan itu tidak bisa  melepaskan diri dari belenggu kemiskinan. 
    
                                    *** 
LEBAK yang berpenduduk 1.027.053 jiwa (Sensus Penduduk 2000), sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari pertanian dan perkebunan. Luas areal pertanian dalam bentuk lahan sawah adalah 42.362 hektar, jauh lebih kecil dibanding luas lahan kering yang mencapai 185.151 hektar. Pertanian memang menjadi andalan utama  kabupaten ini. Sektor ini memberi kontribusi terbesar bagi kegiatan   ekonomi tahun 1999, yakni 36,34 persen dari total senilai Rp 2,25  trilyun. 
    
Kekayaan di sektor agroindustri bisa pula menjadi salah satu sumber PAD. Seluas 70.570 hektar lebih-hampir seperempat dari luas wilayah  Lebak yang 285.997 hektar-merupakan areal perkebunan dengan   spesifikasi buah-buahan yang bisa jadi unggulan, mulai dari durian, rambutan yang tumbuh baik di Maja, salak di Cijaku, hingga mangga dan  pisang di Lebak Selatan. Jenis-jenis tanaman perkebunan ini terutama  dibudidayakan di perkebunan rakyat. Pemda setempat tengah mengupayakan  pengembangan komoditas unggulan tersebut untuk mendukung tingkat kesejahteraan petani. Sedangkan, karet, kakao, kelapa sawit, dan  kelapa hibrida banyak dihasilkan dari perkebunan PTP dan swasta besar. 
    
Sesungguhnya Lebak kaya akan sumber alam. Potensi hidrologis di Lebak  cukup menjanjikan. Daerah ini memiliki cukup banyak jumlah mata air  yang mengalir sepanjang tahun dengan debit air lumayan besar. Beberapa  sungai yang jadi andalan itu antara lain Sungai Ciujung, Ciberang,  Cilaki, Ciberang, Cisimeut, Cimadur, Cisiih, Cihara, dan Cibaliung. Kekayaan alam ini bisa mendukung kebutuhan air irigasi pertanian dan  air bersih bagi penduduk perkotaan, utamanya Jakarta dan Tangerang. 
    
Dalam soal pertambangan, Lebak pernah punya tambang emas yang produktif. Tambang emas itu terletak di Desa Cikotok, Kecamatan Bayah.  Tambang yang telah berproduksi sejak 1939 itu pernah memproduksi emas  sebanyak 133 kg (1990), 102 kg (1991), 75 kg (1992), dan terakhir cuma 14,23 kg (1993). Produksinya terus menurun. Pada akhirnya pengeksploitasian tambang ini dihentikan pada tahun 1994. Kini bekas  tambang emas itu tengah disiapkan untuk dijadikan areal pariwisata dan  studi pertambangan. 
    
Pengembangan pariwisata terutama di wilayah pesisir Samudera Indonesia. Sepanjang Malingping sampai Bayah sejauh 40 km memiliki  pemandangan pantai berkarang yang amat mempesona. Daya pikat alamnya    yang eksotis bisa menarik wisatawan berkunjung ke sana, yang sudah  tentu bisa menjadi sumber pemasukan kas daerah. Pantai Bagedur dengan  hamparan pasir yang amat luas, dan Pantai Karang Taraje bisa menjadi obyek wisata pantai yang potensial. Namun, kedua obyek wisata itu belum dikembangan maksimal. Kendala utama adalah soal jalan dan  listrik. 
    
                                    *** 
                                       
SEMUA potensi itu sesungguhnya bisa membawa Kabupaten Lebak berdiri sama tinggi dengan kabupaten lainnya. Idealnya, Lebak bisa menghidupi  daerahnya sendiri dari hasil bumi dan kekayaan alamnya yang melimpah. Namun, sayangnya belum semua kekayaan alam itu bisa tergarap optimal. Hasil yang didapat belum sebanding dengan kekayaan sumber alam yang  dipunyai. 

Kendala utama kabupaten yang pendapatan per kapita penduduknya cuma Rp 1,8 juta-jauh di bawah rata-rata nasional yang Rp 4,6 juta- adalah  belum siapnya daya dukung infrastruktur perhubungan. Banyak desa yang masih sulit dijangkau kendaraan roda empat. Dalam arti masih banyak daerah yang terisolasi. 
    
Pembangunan ruas-ruas jalan terutama jalan yang menghubungkan pusat-pusat produksi dari desa ke kecamatan, atau jalan yang  menghubungkan antardesa, dan desa dengan kota merupakan prioritas yang   sangat mendesak, agar kabupaten yang jaraknya tak sampai 200 km dari  ibu kota negara ini tak lagi terisolir. (MG Retno Setyowati/Litbang  Kompas ) 


Sumber :
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/01/11/0029.html
12 Januari 2001